Archive for October, 2009

Dumb and Dumber

Minggu lalu Liverpool akhirnya mengalahkan musuh bebuyutannya MU dengan skor yang lumayan telak 2-0 di Anfield. Di balik kemenangan itu ternyata terdapat beberapa peristiwa yang cukup memilukan hati.

Klub yang diikuti bagaikan sebuah agama oleh pecintanya di seluruh dunia justru didemo oleh para fans mereka sendiri. Demo itu sebagian besar berisi kekecewaan terhadap 2 pemilik baru (Gillet dan Hicks) yang dijuluki Dumb and Dumber oleh fans, karena dianggap kurang peduli terhadap nasib klub oleh mayoritas fans. Begitu banyak hutang yang dibebankan kepada klub, meskipun hutang tersebut lebih banyak karena kepentingan pribadi sang pemilik baru.

Hubungan antara owner-manager-customer sudah sangat sering dibahas ketika kita masih kuliah, jika tidak ada keseimbangan atau teamwork yang bagus maka internal perusahaan juga akan kacau. Ibarat bermain bola, antara penyerang, gelandang dan bek masing-masing sibuk sendiri, sehingga jalannya pertandingan awut-awutan.

Di era internet yang sudah memasuki generasi ketiga ini, ternyata masih banyak praktek-praktek manajemen yang boleh dikatakan menabrak prinsip dasar bagaimana sebuah bisnis itu berjalan. Tidak hanya di organisasi pemerintah, bahkan swasta yang konon katanya lebih efisien praktek seperti ini juga masih terjadi.

Jika boleh sedikit sok tahu, ada dua kata yang sepertinya terlihat simpel tapi jika benar-benar dilakukan hasilnya bisa sangat luar biasa, yaitu: change and listen. Kemauan untuk berubah ternyata dalam prakteknya luar biasa sulit untuk dilakukan apalagi dalam sebuah organisasi yang sudah mapan dan kulturnya sudah mengakar. Yang kedua, kemauan untuk mendengar juga ternyata dalam kenyataannya, adalah sebuah hal yang susah sekali untuk diimplementasikan.

Bayangkan efeknya jika banyak perusahaan yang mau untuk melakukan dua hal simpel ini ‘berubah’ dan ‘mendengar’. Selamat ber-imaginasi…….

 

Happy Tuesday, 27 October 2009

Nokia versus Blackberry

Diskusi pagi ini dengan teman-teman FEUI94  sungguh sangat menggairahkan, yang menjadi topik hangat adalah pertempuran antara Nokia vs Blackberry. Seperti kita ketahui bahwa pertumbuhan blackberry sangatlah pesat,  di Indonesia tercatat sudah lebih dari 500.000 pelanggan aktif blackberry.

Menurut salah satu petinggi Indosat yang mengurusi bb, kesuksesan bb tak lepas dari  studi tentang kultur orang Indonesia yang senang untuk ber-sms ria, terutama yang hobi memencet tombol qwerty di handset mereka. Terbukti memang masyarakat Indonesia, Thailand dan beberapa negara Asia lebih senang mengirimkan text berformat qwerty daripada berbicara lewat telepon. Faktor ini pula yang membuat iPhone kurang begitu sukses di pasar Indonesia, walaupun sukses luar biasa di pasar Amerika.

So, bagaimana caranya Nokia memukul balik serangan bertubi-tubi blackberry dan iPhone?

Yang pertama adalah, Nokia sepertinya lupa faktor “connecting people” yang menjadi tagline mereka. Saat ini the real connecting people adalah blackberry, bayangkan jika sedang berkumpul dengan teman ataupun sahabat, dan tiba-tiba mereka bertanya, “Eh nomor PIN lu berapa?”.Tentu saja kita akan sedikit minder jika tidak memiliki handset yang serupa, dan merasa tidak tune-in dengan tren terbaru di lingkaran sosial kita.

Satu lagi yang lebih dahsyat, dengan Blackberry Messenger (bbm) versi 5, terdapat fasilitas Bbm group yang membuat kita bisa chatting dengan gang lama di sekolah ataupun teman sekantor. Fasilitas sukses  membuat customer blackberry semakin terikat kuat dan enggan kembali ke handset Nokia lama mereka yang terasa kuno.

Jadi faktor kultur, lifestyle, social relationships  dan peer pressure menjadi kunci sukses blackberry, Nokia harus menciptakan sistem yang serupa atau kalau perlu yang lebih canggih lagi untuk merebut pelanggan mereka yang telah kabur.

Catatan kedua adalah, Nokia harus menciptakan terobosan baru diluar sistem yang telah mereka ciptakan. Sistem navigasi handset Nokia lama, apalagi di seri N kadang terasa lambat. Untuk memutar balikkan persaingan, Nokia harus mengintegrasikan koneksivitas ke  internet dalam handset mereka dan menciptakan software baru yang memberikan experience yang lebih ‘WOW’ pada konsumen. Nokia Communicator sebelumnya telah sukses menaklukkan pasar smartphone di Indonesia, pengalaman ini seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menghajar pesaing baru di kelas smartphone yang semakin banyak bermunculan.

Thus, sebagai final word di blog ini, mindset untuk menaklukkan pasar seharusnya dibalik. Studi tentang social media and mediumnya seharusnya menjadi hal pertama yang diriset, sebelum teknologi masuk untuk mengadopsi kehausan manusia sebagai makhuk sosial yang selalu ingin terhubung dengan manusia lainnya. Dan saat ini menjadi titik kritis bagi Nokia untuk memberikan suatu penawaran yang luar biasa, atau mereka hilang ditelan oleh kejamnya kompetisi di dunia digital.

Sekilas mengenai Social Media

Perkembangan social media sedemikian pesatnya, sehingga banyak brand yang terjun karena euforia yang ada. Tetapi di satu sisi, banyak juga brand manager yang takut untuk masuk ke marketing communicaton channel ini. Ketakutan itu sangat beralasan karena tentu saja dukungan manajemen dan organisasi yang kuat untuk mengimplementasikannya.

Hal ini bukan sesuatu yang mengagetkan, karena logikanya tidak mungkin kita terjun ke sebuah channel baru tanpa pesiapan yang matang. Dalam beberapa studi kasus, ada yang account facebook ataupun twitternya adalah hanya inisiatif dari karyawan perusahaan tersebut.

Beberapa tips ringan yang bisa dipertimbangkan sebelum terjun ke channel super aktif ini:

a. Strategi komunikasi yang matang dan efektif.

Ini perlu karena tanpa planning yang terstruktur, investasi bisa berbalik menjadi negatif,  tantangan lainnya adalah  meyakinkan PR manager yang masih tradisional untuk berubah.

b. Basic elemen marketing i.e.: STP (Segment, Target, Positioning), Marketing Mix, dan Branding

Perlu diperhatikan apakah target market yang ingin dituju cocok jika ditembak dengan  medium tersebut. Misalnya FB yang dari sisi demografis didominasi oleh usia dewasa dengan lifestyle tertentu dan kebanyakan tinggal di kota-kota besar, tentu belum tentu cocok untuk produk-produk kelas bawah yang menjurus ke komoditas.

c. Konsistensi

Banyak perusahaan yang hanya hangat di awal saja setelah itu tidak jelas. Hal ini sangat menggangu brand credibility yang ujung-ujungnya membuat customer jengkel. Seperti tidak pernah update informasi, ataupun message yang disampaikan terlalu interupting.

d. Tools yang komprehensif

Banyak yang gagal mendapatkan hasil efektif karena kurang komprehensif dalam menggunakan tools marketing yang ada. Ini hanya bisa dilakukan oleh para expert di marketing. Detailnya mungkin akan dibahas di artikel selanjutnya.

Masih banyak hal lain yang bisa dipertimbangkan sebelum keputusan untuk terjun ke social media dilakukan. Keseimbangan antara kecepatan dalam berkomunikasi, keakuratan dan keefektifan adalah kunci untuk memenangkan hati dan pikiran customer yang dituju. Sesuai dengan mediumnya, secepat itu brand kita bisa menjulang, dan secepat itu pula brand kita bisa jatuh jika tidak menemukan keseimbangan yang tepat.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.