Archive for December 28, 2009

Go Go Tiger!

Luar biasa dampak negative publicity, kasus yang menimpa Tiger Woods menjadi contoh yang dahsyat bagaimana efek domino  kolaps-nya sebuah brand yang bernama Tiger Woods.

Dimulai dari sebuah berita kecelakaan mobil, akhirnya meluas menjadi persoalan perselingkuhan. Ironisnya kejatuhan sang raja golf itu justru dimulai dengan sebuah pukulan golf stick oleh istrinya sendiri.

Negative effect dari kasus ini terus berputar tanpa henti seperti angin tornado yang menyapu ke segala arah. Akhirnya bermunculanlah pengakuan perselingkuhan baru dari sang atlet dengan beberapa wanita sekaligus (sampai tulisan ini dibuat sudah 14 orang wanita yang mengaku), sebagai akibatnya brand-brand yang tadinya meng-endorse Tiger Woods beramai-ramai menarik diri. Yang pertama adalah brand minuman energi Gatorade dan beberapa brand lain sudah melakukan ancang-ancang untuk mundur.

Yang bisa kita pelajari dari kasus ini adalah, di abad informasi seperti sekarang, dimana tranparansi, kejujuran dan ke-otentikan menjadi sebuah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi maka sekali reputasi itu dilanggar maka hukuman yang keras dari pasar sudah menanti . Jadi brand yang jujur, transparan dan otentik lah yang akan mempunyai probabilitas besar untuk memenangkan persaingan di dunia.  Ada pepatah yang mengatakan bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati.  Maka, menjadi jujur dan transparan serta menjaga dengan kuat reputasi itu jauh lebih baik dibandingkan mencoba menahan efek domino publisitas yang negatif. Tiger Woods telah menjadi bukti bahwa, sebesar apapun sebuah brand, akan sulit mengembalikan reputasi yang telah terlanjur ternoda.

Maka bagi para brand manager, please berhati-hatilah dalam menjaga reputasi di pasar. Jangan hanya karena emosi sesaat ataupun kepentingan pribadi melupakan ribuan karyawan di balik brand tersebut yang membutuhkan sandang, pangan dan papan.

As simple as a stamp promotion

Kadang kala marketer berpikir terlalu rumit akan sebuah sales promotion yang efektif, semua hal njlimet dipikirkan sampai akhirnya eksekusi aktivitas tidak bisa dilaksanakan karena budget tidak cukup, ditolak bos karena membingungkan ataupun orang-orang di lapangan tidak mengerti konsepnya.

Sebuah promosi sederhana dari Starbucks menjelang Christmas ternyata lumayan efektif untuk membuat customers menambah konsumsi kopi mereka. Promosinya adalah kumpulkan 21 stamps semua jenis kopi dan 5 stamps edisi khusus (pilihannya Toffee Nut Latte, Dark Cherry Mocha Frap, Toffee Nut Frap). Hadiahnya, sebuah planner 2010 yang lucu, tidak bisa kita beli, dan hanya bisa didapatkan jika kita menenggak 26 gelas Starbucks!

Jika ditinjau dari semua aspek marketing, tidak tampak ada hal yang istimewa, tapi trigger sales promosi ini menjadi efektif ketika agenda/planner yang ditawarkan sangatlah unik, lucu dan eksklusif. Hal lain yang membuat trigger marketing ini berjalan adalah, efek godaan yang dibuat dengan memajang planner ini di semua outlet Starbucks. Sensor impulse buying akan langsung menyala setiap kali melewati counter gerai kopi asal Seatlle ini.

Intisari yang bisa dipetik, janganlah ragu-ragu dalam membuat campaign sederhana. Sederhana dalam konsep bisa dibuat menarik jika komponen promosi yang ada didalamnya dipoles dengan benar, detail yang bagus, dan timeframe yang cukup untuk memasarkannya.

Selamat mencoba.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.