Luar biasa dampak negative publicity, kasus yang menimpa Tiger Woods menjadi contoh yang dahsyat bagaimana efek domino kolaps-nya sebuah brand yang bernama Tiger Woods.
Dimulai dari sebuah berita kecelakaan mobil, akhirnya meluas menjadi persoalan perselingkuhan. Ironisnya kejatuhan sang raja golf itu justru dimulai dengan sebuah pukulan golf stick oleh istrinya sendiri.
Negative effect dari kasus ini terus berputar tanpa henti seperti angin tornado yang menyapu ke segala arah. Akhirnya bermunculanlah pengakuan perselingkuhan baru dari sang atlet dengan beberapa wanita sekaligus (sampai tulisan ini dibuat sudah 14 orang wanita yang mengaku), sebagai akibatnya brand-brand yang tadinya meng-endorse Tiger Woods beramai-ramai menarik diri. Yang pertama adalah brand minuman energi Gatorade dan beberapa brand lain sudah melakukan ancang-ancang untuk mundur.
Yang bisa kita pelajari dari kasus ini adalah, di abad informasi seperti sekarang, dimana tranparansi, kejujuran dan ke-otentikan menjadi sebuah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi maka sekali reputasi itu dilanggar maka hukuman yang keras dari pasar sudah menanti . Jadi brand yang jujur, transparan dan otentik lah yang akan mempunyai probabilitas besar untuk memenangkan persaingan di dunia. Ada pepatah yang mengatakan bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Maka, menjadi jujur dan transparan serta menjaga dengan kuat reputasi itu jauh lebih baik dibandingkan mencoba menahan efek domino publisitas yang negatif. Tiger Woods telah menjadi bukti bahwa, sebesar apapun sebuah brand, akan sulit mengembalikan reputasi yang telah terlanjur ternoda.
Maka bagi para brand manager, please berhati-hatilah dalam menjaga reputasi di pasar. Jangan hanya karena emosi sesaat ataupun kepentingan pribadi melupakan ribuan karyawan di balik brand tersebut yang membutuhkan sandang, pangan dan papan.