Archive for March 5, 2010

People Power

Hiruk-pikuk pansus Century dan tanggapan masyarakat Indonesia yang bisa langsung dibaca di twitter maupun social media lainnya serta hasil riset terbaru The Nielsen Company menggelitik keinginan untuk menulis update di blog ini. Riset tersebut menyebutkan bahwa level kepercayaan konsumen yang terbesar berasal dari rekomendasi teman/rekan terdekat, bukan dari websites perusahaan, TV, koran ataupun majalah.

Hal ini memang bukan hal yang baru, dan mungkin sudah banyak yang menulisnya di blog ataupun di majalah. Tetapi yang patut dicermati, terutama bagi pemilik brand adalah penyebar cerita sebuah brand telah mendapatkan medium baru untuk menyebar dengan cepat. Tentu saja hal ini dengan asumsi bahwa trigger yang diciptakan tepat dan disebarkan oleh orang yang tepat. Jika merujuk pada tulisan Malcolm Gladwell – tipping point, orang-orang bertipe connector, mavens dan salesmen seperti menemukan “dunianya” di medium baru tersebut – media sosial.

Tetapi seperti halnya sebuah mata pedang, ada sisi positif dan negatif yang harus dicermati. Sisi gelap ini yang kadang luput dari perhatian marketer. Sebaris kata, kira-kira 140 karakter, sanggup membunuh sebuah brand yang mungkin telah dibangun selama puluhan bahkan ratusan tahun. Bayangkan, berapa banyak investasi yang dikeluarkan bisa hilang dalam semalam. Sebagai contoh, beberapa selebriti yang keseleo lidah, langsung dihujat oleh ribuan orang yang berada di dunia media sosial tersebut. Bahkan sampai ada anak sekolah yang terpaksa menulis surat permintaan maaf kepada seluruh sekolah negeri di Indonesia karena “keseleo” lidah, telah menghina sebuah sekolah negeri.

Yang bisa kita ambil hikmahnya disini, ruang kata-kata pribadi yang tadinya mungkin hanya berputar sebatas 4 dinding tembok batu bata, dengan adanya medium ajaib bernama internet, mampu menembus dimensi ruang dan waktu dan hidup abadi di dunia maya. Kata-kata dan sikap yang dahulu bisa disembuyikan rapat-rapat di balik lemari besi, akan semakin sulit untuk disembuyikan. Masyarakat postmodern akan semakin terbuka,  dan brand-brand pun harus siap untuk telanjang, menjadi makhluk yang manusiawi dan jujur di hadapan customer mereka. Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali berbenah dan mencoba semakin memahami percakapan dan cara bercakap-cakap dengan konsumen di era baru ini.   People power telah menjelma menjadi the “real” people power.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.