“You’re fired!!!!”
Donald Trump, The Apprentice
Ya itulah mantra sakti Donald Trump dalam The Apprentice yang menyuguhkan suspense alias ketegangan extra tinggi seolah-olah dalam kehidupan nyata para pebisnis.
Dalam kehidupan nyata saat ini, dalam suasana kompetisi di pasar yang semakin menggila, ketika bisnis melesu, biasanya budget marketing yang kena potong duluan. Seolah-olah orang-orang marketing hanyalah SPBU alias Sumber Primer Buang-buang Uang.
Itu belum seberapa, ada tambahan syarat lagi yang harus dipenuhi oleh marketers yaitu ROI (Return on Investment), bos besar tidak mau lagi sekedar melihat iklan perusahaan mereka tampil di TV, plus Billboard megah di pinggir jalan dan barisan mbak-mbak ayu para SPG memakai rok ketat menjajakan produk mereka yang diiringi dengan musik heboh ala gorup Peter Pan di panggung hiburan.
Apa kata dunia!!!!!! (Meniru salah satu iklan kantor pajak). Jaman sudah berubah bung, sekarang sampeyan-sampeyan para marketers dituntut untuk bertanggung jawab dengan semua uang yang dikeluarkan. Tujuannya, jelas tentu agar semua marketing expenses bisa lebih accountable, apalagi jika masuk dalam balance scorecard, ini bisa menjadi ‘performance-indicator’ bagi marketer bersangkutan. Terus bagaimana cara mengukurnya? Mungkin banyak marketer sudah pakar dalam hal pengukuran ROI dengan berjuta macam teori finansial dan marketing, tetapi banyak juga mungkin yang masih bingung dengan perhitungan ROI alias Return on Investment dalam aktivitas marketing.
Mungkin Riset Richmond Research terhadap para marketer profesional di UK bisa dijadikan benchmark terhadap aktivitas pengukuran ROI. Hasil riset mereka mengungkapkan bahwa 82% marketers sudah mengukur ROI dalam perusahaan mereka. Dari jumlah itu 79%-nya menggunakan perhitungan campaign-by-campaign basis. Lebih jauh lagi 56% respondent mengatakan bahwa mereka menghitung komponen individual dalam marketing mix dan 36% mengukur ROI berdasarkan annual execution.
Pengukuran berbasiskan campaign-by-campaign saya kira lebih mudah dibedah daripada perhitungan gross selama satu tahun. Mungkin teman-teman di advertising sudah akrab dengan audience share gaya Nielsen ataupun TV AD monitor-nya MRI yang mengukur effectiveness score bisa dijadikan pijakan pengukuran ROI.
Tetapi mari kita tinggalkan sejenak perhitungan teknis, dari Riset Richmond tersebut juga terungkap bahwa alasan utama marketer-marketer di Inggris menggunakan ROI adalah bahwa hal tsb sangat membantu dalam perencanaan proyek-proyek advertising dan aktivitas marketing lainnya di masa depan, padahal sejujurnya hanya sedikit yang mendapatkan tambahan “sabetan” alias bonus dari penggunaan ROI di aktivitas marketingnya! Wah, kalau tidak dihargai terus mengapa terus pakai ROI, menurut sebagian praktisi profesional tersebut hal tersebut dilakukan semata supaya terlihat ‘gaya’ dan profesional di mata bos-bos besar, hal yang lucu bukan?
Hal lain yang mengejutkan dari riset tersebut adalah, tidak adanya konsensus apa itu yang dianggap sebagai point ‘return’ dari istilah Return on Invesment. 30% marketers lebih suka menggunakan sales volume sebagai basis perhitungan ‘return’.
Sebagai brand specialist, tentu saya pribadi juga turut bersedih karena 59% respondents justru tidak mengikut sertakan ‘brand equity’ sebagai basis perhitungan, alasan yang diberikan sungguh lucu-lucu seperti perusahaan dan bos tidak percaya brand equity (9% respondents). Hanya 29% respondent yang setuju akan konsep brand equity.
Hal lain yang menarik, ternyata para marketer di UK tidak punya policy yang bisa menggunakan ‘agency remuneration’ ke perhitungan ROI!
Jadi boleh disimpulkan bahwa penggunaan ROI dalam marketing masih sebatas konsep di awang-awang yang belum menjadi standard dalam industry.